ALHIRATECHNOLOGIES.COM : Toko Online Elektronik, Pen Muslim, Audio Digital, Jam Muslim dan CD/DVD Islami


Customer Service

SMS / Hotline
Telp : 0225233134
Whatsapp : 082121445511
Whatsapp : 081333488881
Whatsapp : 081333499991
Line Id : alhiratechnologies
Keranjang Belanja
Keranjang belanja Anda masih kosong. Selamat berbelanja.

Rekening Pembayaran
Testimonial

rhalumunium.com
Jam Meja Digital Azan Sholat 06 & Mesin Pintu Muslim. Telah diterima dengan baik, senin sore transfer rabu pagi sudah sampai, good job. Terima kasih



By Alhira Technologies  Article Published 06 February 2016
 
Dari Ibnu Humaid, ia mengatakan:

عطس رجل عند ابن المبارك ، فقال له ابن المبارك : أيش يقول الرجل إذا عطس ؟ قال : الحمد لله ، فقال له : يرحمك الله

Suatu hari seseorang pernah bersin di sisi Abdullah bin Mubaarak, orang itu tidak mengucapkan Hamdalah. Lalu Ibnul Mubaarak menoleh kepadanya dan bertanya, “Apa yang seharusnya diucapkan seseorang ketika bersin..? Orang tadi menjawab, “Alhamdulillah“. Ibnul Mubaarak pun berkata: “Yarhamukallah” (Al-Hilyah).

Demikianlah seorang da’i itu seperti dokter, menyembuhkan, bukan menyakiti. Seperti seorang dokter yang pandai menakar dosis obat, begitu juga seorang da’i, dia harus cerdas dalam menakar nasehat yang akan disampaikan. Mencari cara agar nasehat yang disampaikan tepat sasaran dan tidak melukai orang lain.
Yaah… Walau terkadang, selembut-lembutnya untaian nasehat tetap saja dianggap sebagai tikaman bagi orang lain. Namun sepahit apapun obat, tetap harus di telan.

Seorang pemuda pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, izinkan aku berzina!”

Segera saja oang-orang mendatanginya lalu menghardiknya, “Diam kamu! Diam!

Tapi Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam– berkata, “Mendekatlah”. Pemuda itu pun mendekat lalu duduk di hadapan Nabi –shallallahu alaihi wasallam-.

Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bertanya, “Relakah engkau jika ibumu dizinai orang lain?

Tidak demi Allah wahai Rasul,” sahut pemuda itu.

Begitu pula orang lain, mereka tidak rela kalau ibu mereka dizinai”.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, “Relakah engkau jika putrimu dizinai orang?

Tidak demi Allah wahai Rasul!” pemuda itu kembali menjawab.

Begitu pula orang lain, mereka tidak rela jika putri mereka dizinai”.

Relakah engkau jika saudari kandungmu dizinai?”

Tidak, demi Allah, wahai Rasul!”

Begitu pula orang lain, tidak rela jika saudara perempuan mereka dizinai

Relakah engkau jika bibi – dari jalur bapakmu – dizinai?”

Tidak, demi Allah, wahai Rasul!”

Begitu pula orang lain, tidak rela jika bibi mereka dizinai

Relakah engkau jika bibi – dari jalur ibumu – dizinai?

Tidak, demi Allah, wahai Rasul!”

Begitu pula orang lain, tidak rela jika bibi mereka dizinai”.

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangannya di dada pemuda tersebut sembari berkata,

اللهم اغفر ذنبه وطهر قلبه، وحَصِّنْ فرْجَه

Ya Allah, ampunilah kekhilafannya, sucikanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya

Setelah kejadian tersebut, tidak ada yang lebih di benci pemuda itu melebihi zina (HR. Ahmad: 22211).

Sahabat….
Bukankah zina merupakan dosa besar..?
Tapi coba perhatikan cara Rasulullah dalam memperbaiki kesalahan pemuda tadi, kemudian bandingkan dengan sikap sebagian orang di zaman ini bila dihadapkan dengan kasus yang sama.

Terkadang dalam mengingkari suatu kesalahan, sebagian kita lebih sering bertindak layaknya seorang hakim ketimbang dokter.
Lebih suka memvonis ketimbang mengobati.

Kalau begitu kita harus belajar lagi…

Sumber Artikel Muslim.or.id



Related Article