ALHIRATECHNOLOGIES.COM : Toko Online Elektronik, Pen Muslim, Audio Digital, Jam Muslim dan CD/DVD Islami


Customer Service
CS Alhira 1
CS Alhira 2
CS Alhira 3
Cs Alhira 4
CS Alhira 5

SMS / Hotline
081 3334 99991
022-5233134

Keranjang Belanja
Keranjang belanja Anda masih kosong. Selamat berbelanja.

Rekening Pembayaran
Testimonial

Desi (Jambi)
Alhamdulillah, dengan adanya pen muslim Al Mubarak dari Alhira saya jadi paham dan mengerti tentang tajwid, asbabunuzul, serta hadits nya. Karna didalam al-qur'an itu sudah terkaji dengan lengkap. Ini sangat membantu saya untuk lebih memahami ayat-ayat al-qur'an dengan benar. Terima Kasih.



By   Article Published 26 November 2012
 

HAJI WADA

Haji Wada’ dikenal juga dengan nama Haji Perpisahan Nabi Muhammad Saw. Beliau mengumumkan niatnya pada 25 Dzulqaidah 10 H atau setahun sebelum beliau wafat. Dari sekian banyak hikmah dari Haji Wada’ ini adalah pesan kemanusiaan yang terungkap dari khutbah beliau. Haji Wada' atau haji perpisahan adalah ibadah haji  terakhir yang dilakukan oleh Rosululloh saw sebelum akhirnya ia wafat.

Tahun kesebelas Hijrah, haji pertama Rasulullah dan kaum Muslimin tanpa ada seorang musyrik pun yang ikut didalamnya, Untuk pertama kalinya pula, lebih dari 10.000 orang berkumpul di Madinah dan sekitarnya, menyertai Nabi melakukan perjalanan ke Makkah, dan sekaligus inilah haji terakhir yang dilakukan oleh Rasulullah. Rombongan haji meninggalkan Madinah tanggal 25 Dzulqadah , Rasulullah disertai semua isterinya, menginap satu malam di Dzi Al-Hulaifah, kemudian melakukan Ihram sepanjang Subuh, dan mulai bergerak…

PERJALANAN SAMPAI DI MAKKAH

Rasulullah saw memasuki kota Mekkah dari bagian atas dari jalan Kada‘ hingga tiba di pintu Banu Syaibah. Ketika melihat Ka‘bah beliau mengucapkan do‘a:

“Ya, Allah tambahkanlah kemuliaan, keagungan, kehormatan, dan kewibawaan kepada rumah ini. Tambahkanlah pula kemuliaan, kehormatan, kewibawaan, keagungan dan kebajikan kepada orang yang mengagungkannya di antara orang-orang yang mengerjakan haji dan umrah.”

Rasulullah saw melaksanakan ibadah hajinya seraya mengajarkan manasik dan sunnah-sunnah haji kepada orang-orang yang menunaikan ibadah haji bersamanya.

KHUTBAH RASULULLAH DI PADANG ARAFAH

Mendengar ucapan Rasulullah, sebagian pengikutnya terheran-heran, sebagian lagi tertunduk sedih, sebagian lagi terdiam karena penasaran menanti perkataan Rasulullah selanjutnya. Saat berkumpulnya pengikutnya mengitari Rasulullah di Padang Arafah ini, umat Islam kemudian mengenalnya dengan peristiwa wuquf. Jadi, tak heran orang yang menuaikan ibadah wuquf, biasanya terkenang dengan khutbah Rasulullah.

Karena Haji Wada’ disebut juga Haji Perpisahan atau Terakhir bagi Rasulullah, kaum Muslim yang berada di Arafah kala itu, begitu seksama mendengar khutbah Rasulullah. Mereka ingin semua pesan yang disampaikan beliau tercerap dalam hati sanubari sebagai bekal di kemudian hari. Apalagi Rasulullah dalam kata sambutan khutbahnya mengingatkan dirinya kemungkinan tak akan bertemu lagi dengan mereka setahun lagi.

KEBERANGKATAN RASULULLAH KE MUZDALIFAH DAN MINA

Nabi saw tetap tinggal di Arafah hingga terbenam matahari. Pada saat terbenam matahari itu Nabi saw berserta orang-orang yang menyertainya berangkat ke Muzdalifah. Seraya memberikan isyarat dengan tangan kanannya beliau bersabda: “Wahai manusia, harap tenang, harap tenang!“. Kemudian beliau menjama‘ takhir shalat maghrib dan Isya‘ di Muzdalifah kemudian sebelum terbit matahari beliau berangkat ke Mina, lalu melontar Jumratul Aqabah dengan tujuh batu kecil seraya bertakbir di setiap lontaran. Setelah itu beliau pergi ke tempat penyembelihan lalu menyembelih 63 binatang sembelihan (budnah). Kemudian beliau menyerahkan kepada Ali untuk menyembelih sisanya sampai genap 100 sembelihan. Setelah itu beliau naik kendaraannya berangkat ke Ka‘bah (ifadhah) lalu shalat dhuhur di Mekkah, dan pergi mendatangi Banu Abdul Muthalib yang sedang mengambil air Zamzam lalu bersabda:

“Timbalah wahai banu Abdul Muthalib, kalaulah tidak karena orang-orang berebut bersama kalian, niscaya aku menimba bersama kalian.“

Kemudian mereka memberikan setimba air kepadanya dan beliaupun minum darinya. Akhirnya Nabi saw berangkat kembali ke Madinah.

BEBERAPA IBRAH YANG BISA KITA AMBIL DARI HAJI WADA’

Pertama, Bilangan Haji Rasulullah saw dan Waktu disyari‘atkannya Haji

Turmudzi dan Ibnu Majah meriwayatkan bahwa beliau pernah melakukan ibadah haji tiga kali sebelum hijrahnya ke Madinah. Al Hafidz Ibnu Hajar di dalam Fath-hul Bari berkata: Pendapat ini didasarkan kepada jumlah kedatangan utusan Anshar yang pergi ke Aqabah di Mina setelah haji Pertama, mereka datang lalu membuat janji. Kedua, mereka datang lalu melakukan baiat yang pertama. Ketiga mereka datang lalu melakukan baiat kedua.

Kedua: Makna Agung dari Haji Rasulullah saw

Haji Rasulullah saw ini memiliki makna yang sangat besar yang berkaitan dengan dakwah Islam kehidupan Nabi saw dan sistem Islam.

Kaum Muslimin telah belajar dari Rasulullah saw tentang shalat, puasa, zakat dan segala hal yang berkenaan dengan peribadatan dan kewajiban mereka. Kini Nabi saw tinggal mengajarkan kepada mereka manasik dan cara pelaksanaan ibadah haji, setelah tradisi-tradisi jahiliyah ynag biasa dilakukan pada musim-musim haji itu dihapuskan oleh beliau bersamaan dengan penghancuran berhala yang ada di dalam baitullah.

Ketiga : Renungan Tentang Khutbah Wada‘

Sungguh kalimat-kalimat yang disampaikan di padang Arafah begitu indah. Beliau bukan saja berbicara kepada mereka yang hadir di padang Arah tetapi kepada semua generasi dan sejarah sesudah mereka. Kalimat-kalimat ini disampaikannya setelah beliau menyampaikan amanah, menasehati Ummat dan berjihad di jalan dakwah selama 23 tahun tanpa bosan dan jemu. Demi Allah, betapa indahnya saat itu. Saat di mana ribuan kaum mualaf berhimpun di sekitar Rasulullah saw dengan penuh ketaatan dan ketundukkan, padahal mereka sebelumnya memusuhi dan memeranginya.

Tema kedua dari khutbah beliau: Bukan sekedar tausiah tetapi merupakan qoror (keputusan) yang diumumkan kepada semua orang, kepada mereka yang hadir di sekitarnya dan juga kepada ummat-ummat yang akan datang sesudahnya.

Qoror itu berbunyi: “Sesungguhnya segala macam riba tidak boleh berlaku lagi! Tindakan menuntut balas atas kematian seseorang sebagaimana yang berlaku di masa jahiliyah juga tidak boleh berlaku lagi. Riba jahiliyah tidak boleh berlaku lagi.“

Apa maknanya yang terkandung di dalam qoror ini? Ia menegaskan bahwa segala macam hal yang pernah dibanggakan dan dipraktekkan oleh jahiliyah, diantaranya seperti tradisi fanatisme, kekabilahan, perbedaan-perbedaan yang didasarkan kepada bahasa, keturunan, dan ras, atau penghambaan seseorang terhadap sesamanya dan pemerasan (riba), dinyatakan tidak berlaku lagi. Pada hari ini praktek-praktet jahiliyah itu merupakan barang busuk yang telah ditanam oleh syariat Allah ke dalam perut bumi. Praktek-praktet jahiliyah itu dalam kehidupan seorang Muslim pada hari ini letaknya berada di bawah telapak kaki. Ia adalah najis yang harus dibersihkan kezhaliman yang harus dilenyapkan.

Tema ketiga dari khutbah beliau: Menyatakan tentang keserasian jaman dengan nama-nama bulan yang disebutkan, setelah sekian lama dipermainkan oleh orang-orang Arab di masa jahiliyah dan permulaan Islam.

Tema keempat dari khutbah beliau : Wasiat Rasulullah saw agar berlaku baik terhadap kaum wanita. Wasiat ini, yang ditegaskan dalam kalimat yang singkat tapi padat, menghapuskan segala bentuk penganiayaan terhadap kaum wanita dan memperkokoh jaminan hak-hak asasinya dan kehormatannya sebagai manusia.

Tema kelima dari khutbah beliau: Nabi saw meletakkan semua problematika manusia di hadapan dua sumber nilai: siapa yang berpegang teduh dengan keduanya maka dijamin akan terhindar dari segala macam kesengsaraan dan kesesatan.

Tema keenam dari khutbah beliau: Penjelasan Nabi saw tentang hubungan yang seharusnya dibina antara seorang Hakim (penguasa) atau Khalifah atau Kepala Negara dan rakyatnya. Ia adalah hubungan ketaatan dari rakyat terhadap pimpinannya betapapun keturunan, warna kulit, dan bentuk lahiriyahnya selama dia tetap menjalankan hukum Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Tetapi apabila dia menyimpan dari keduanya maka tidak ada kewajiban untuk taat kepadanya.

SUMBER : http://nabilmufti.wordpress.com



Related Article