ALHIRATECHNOLOGIES.COM : Toko Online Elektronik, Pen Muslim, Audio Digital, Jam Muslim dan CD/DVD Islami


Customer Service
CS Alhira 1
Cs Alhira 2

SMS / Hotline
022-5233134
-------------------------
BB PIN: 51674079

Keranjang Belanja
Keranjang belanja Anda masih kosong. Selamat berbelanja.

Rekening Pembayaran
Testimonial

rhalumunium.com
Jam Meja Digital Azan Sholat 06 & Mesin Pintu Muslim. Telah diterima dengan baik, senin sore transfer rabu pagi sudah sampai, good job. Terima kasih



By   Article Published 01 December 2012
 

Kisah Nabi Muhammad Yang Ditemui Oleh Pendeta Bahira

Muhammad saw bin Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qusyai bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luai bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’add bin Adnan.
Nabi Muhammad saw lahir di Makkah pada hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun Gajah dalam keadaan yatim. Penamaan tahun Gajah berkaitan dengan peristiwa pasukan Gajah yang dipimpin oleh Abrahah, Gubernur Yaman yang ingin menghancurkan Ka’bah. Namun sebelum sampai ke kota Makkah, mereka diserang oleh pasukan burung yang membawa batu-batu kerikil panas (lihat pada quran surat alfiil ayat 1-5). Kelahiran nabi Muhammad saw bertepatan dengan tanggal 20 April 571 Masehi.

Nabi Muhammad saw pertama kalinya disusui oleh ibunya Aminah dan Tsuwaibatul Aslamiyah. Namun itu hanya beberapa hari. Selanjutnya beliau disusui oleh Halimah As-Sa’diyah di perkampungan bani Sa’ad. Muhammad saw tinggal bersama keluarga Halimah selama kurang lebih empat tahun. Di akhir masa pengasuhan keluarga Halimah ini terjadi pembedahan nabi Muhammad saw. Sejak kecil Muhammad saw jauh dari tradisi-tradisi jahiliyah dan tidak pernah melakukan penyembahan terhadap tuhan berhala. Namun demikian beliau tetaplah seorang yang santun dan jujur, karenanya beliau terkenal dengan gelar Al-Amien (orang yang terpercaya).

Pada suatu ketika, Abu Thalib pun telah merencanakan akan turut dalam rombongan yang akan berangkat. Tapi, suatu pertanyaan yang senantiasa muncul dalam hatinya: "Apakah keponakannya yang baru berusia tujuh tahun itu akan dibawanya turut serta ke Syria atau akan ditinggalkannya di Mekkah?". Jika dibawanya, ia merasa kasihan terhadap anak yang demikian kecil, yang harus turut mengalami suka duka dalam perjalanan, kepanasan diwaktu siang dan kedinginan di waktu malam. Tetapi, sebaliknya jika ditinggalkannya di kota Mekkah, ia khawatir kalau-kalau akan diganggu oleh anak-anak yang lain.

Walaupun begitu, hatinya lebih cenderung untuk meninggalkan saja keponakannya itu di kota Mekkah, sebab bahaya dan risikonya lebih kecil dibandingkan dengan membawanya serta dalam perjalanan yang tergolong berat tersebut, apalagi hal tersebut adalah untuk pertama kalinya. Dan, Abu Thalib-pun menyampaikan putusannya itu kepada keponakannya, Muhammad. Muhammad kecil itu diam saja, tidak berkata sedikitpun. Tapi, di wajahnya terlukis perasaan sedih. Tak lama kemudian air matanya pun bercucuran. Dipeluk pamannya itu erat-erat, disembunyikannya mukanya ke dalam mantel yang dipakai oleh pamannya, Abu Thalib.

Peristiwa yang mengharukan itu merubah pandangan Abu Thalib. Sekarang, ia lebih condong untuk membawa keponakannya itu turut serta ke Syria. Dari mulutnya melompat ucapan : “Rupanya keponakan saya ini tidak mau tinggal, dan saya pun tidak akan meningggalkannya. Dia akan saya bawa .....”. Muhammad-pun merasa girang, dan terus menerus menyapu air matanya yang masih basah. Dia gembira karena akan turut berangkat bersama dengan pamannya.

Rombongan kafilah dimana Muhammad ikut serta didalamnya, telah berjalan melalui daerah-daerah pegunungan, melewati perkampungan orang-orang Badwi yang mempunyai iklim yang sejuk dan udara yang nyaman. Perjalanan panjang dan jauh dengan tujuan berdagang, untuk pertama kalinya dilakukan oleh Muhammad, saat berusia sangat belia, tujuh tahun (dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa Muhammad berumur 12 tahun saat pertama kali ikut berdagang. Muhammad kembali menghirup udara yang segar seperti pada waktu dia berada di pegunungan Badija, ketika diasuh oleh ibu susunya Halimah as-Sa'diyah. Muhammad tidaklah merasa kaget menempuh perjalanan jarak jauh dari kota Mekkah ke Syria. Setelah berhari-hari dalam perjalanan, akhirnya sampailah kafilah tersebut di Syria dalam keadaan selamat.

Di luar perbatasan kota Syria, dilereng bukit kecil yang bernama Djabal Hauran, terdapat sebuah biara, dimana tinggal seorang pendeta Nasrani yang bernama Bahira. Pada suatu hari, pendeta tersebut melihat di kejauhan dari lereng pegunungan, suatu pemandangan yang ganjil, yaitu sekumpulan awan panjang yang kemudian kelihatan melengkung di permukaan langit biru. Laksana seekor burung besar, awan itu tampak menyusur ke arah utara, memayungi dan mengikuti satu rombongan kafilah yang berjalan dibawahnya. Dari jauh terlihat kafilah tersebut seperti semut berarak.

Beberapa saat kemudian, rombongan kafilah itupun sampai di kaki pegunungan Djabal Hauran. Tidak jauh dari biara pendeta Nasrani itu, di bawah sebuah pohon besar nan rindang yang terletak di tepi sungai kecil, rombongan kafilah itu membuat perkemahan. Mereka beristirahat beberapa saat sebelum meneruskan perjalanan menuju kota Bashra, pusat perdagangan di negeri Syria pada saat itu. Dengan perasaan takjub yang diliputi oleh keinginan untuk memperhatikan kafilah yang berkemah itu, maka pendeta Bahira mengamati segala sesuatunya dari dekat. Awan bergumpal yang semula terlihat di permukaan langit mengikuti jejak rombongan itu, tidak terlihat lagi oleh pendeta Bahira. Kini terlihat bersih dan jernih. Tiba-tiba, pendeta Bahira melihat satu perubahan yang menakjubkan. Dahan-dahan dan daun-daun pohon besar yang dibawahnya dijadikan tempat berkemah oleh rombongan kafilah tersebut, terlihat melengkung membentuk suatu tudung sehingga bayangan dahan-dahan dan daun-daun tersebut melindunginya dari sengatan cahaya matahari. Bayangan yang paling tebal dari awan itu seolah-olah memayungi satu tempat, dimana berkemah satu bagian dari rombongan kafilah tersebut.

Setelah memperhatikan semua peristiwa yang luar biasa tersebut, timbullah dugaan pendeta Bahira bahwa dalam rombongan kafilah yang baru datang itu mungkin turut serta seorang laki-laki, yang disebut-sebut oleh Kitab Injil dan Taurat, akan menjadi seorang Rasul terakhir. Demi mengetahui latar belakang kejadian-kejadian yang ajaib tersebut, maka pendeta Bahira mengirimkan seorang utusan untuk menemui pemimpin rombongan tersebut, sekaligus mengundang semua anggota rombongan untuk mengunjungi biara pendeta Bahira, dimana dia akan menjamu rombongan. “Kebaikan” pendeta yang demikian belum pernah terjadi sebelumnya, meskipun boleh dikatakan tiap-tiap musim banyak rombongan yang melintasi tempatnya tersebut.

Dengan senang hati rombongan tersebut memenuhi undangan pendeta Bahira. Salah seorang diantara anggota rombongan yang sudah kenal baik dengan pendeta tersebut karena berkali-kali telah bertemu ditempat tersebut, berkata kepada pendeta Bahira:
“Saya heran memperhatikan tindakan tuan sekali ini. Telah berkali-kali kami melewati biara ini, tapi baru sekali ini kami mendapat kehormatan menerima undangan tuan untuk makan bersama-sama. Apakah gerangan hal-hal yang terjadi?”

“Memang betul ucapan tuan itu”, sahut pendeta Bahira. “Saya lakukan hal itu karena bisikan hati kecil saya. Yang sudah jelas, pada saat ini semua tuan-tuan menjadi tamu saya. Berilah kehormatan kepada saya untuk duduk dan makan bersama-sama dengan seluruh anggota rombongan tuan-tuan, sesuai dengan undangan yang disampaikan oleh utusan saya itu”.

Pendeta Bahira meminta apabila sudah selesai jamuan sudilah kiranya semua anggota rombongan, seorang demi seorang, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukannya. Dikatakannya bahwa ia (Bahira) akan mencari sesuatu jawaban yang dilukiskan dalam Kitab Suci yang menjadi pedoman hidupnya.

Setelah semua tamu-tamu memenuhi permintaan tuan rumah, timbullah dialog singkat antara pendeta Bahira dengan tiap-tiap anggota rombongan, kemudian Bahira bertanya :
“Apakah masih ada diantara anggota rombongan yang tinggal di dalam kemah dan tidak turut menghadiri jamuan ini?”.

“Ada”, jawab kepala rombongan itu. “Biarkanlah dia istirahat di dalam kemah, sebab hanya seorang anak kecil saja, yang baru berusia kira-kira tujuh tahun”.
“Kenapakah anak itu tidak dibawa kemari? Saya minta agar anak itu dipanggil, supaya dia turut juga menikmati jamuan kita ini”.

Salah seorang diantara rombongan itu, tiba-tiba berkata : “demi Lata dan Uzza! Kita semua telah melakuan satu kekeliruan. Kita tidak mengajak anak itu, padahal undangan pendeta Bahira adalah untuk seluruh rombongan tanpa kecuali”. Setelah mengeluarkan ucapan yang demikian, dia pun berdiri dan terus menuju tempat perkemahan untuk menjemput anak kecil yang masih tinggal didalamnya.

Anak itupun datang. Sesudah dia selesai bersantap, maka pendeta Bahira mendekati anak tersebut seraya berkata :

“O, anak muda! Saya ingin memajukan satu pertanyaan kepada engkau. Demi Lata dan Uzza, sudilah kiranya engkau menjawab pertanyaan yang akan saya ajukan itu”.
Anak muda itu menjawab: “Janganlah ajukan pertanyaan kepada saya atas nama (demi) Lata dan Uzza. Sebab tidak ada sesuatu yang paling saya benci dalam kehidupan ini selain dari Lata dan Uzza itu”.

“Baiklah!”, sahut pendeta Bahira. “Apakah engkau suka menjawab pertanyaan yang saya ajukan atas nama Allah?”

“Ya. Ajukanlah pertanyaan kepada saya atas nama (karena) Allah, pasti akan saya jawab”, sahut anak muda itu.

Akhirnya , pendeta Bahira mengajukan bermacam-macam pertanyaan kepada anak muda itu (Muhammad), mulai dari masalah keluarga, keadaan hidupnya, tidurnya, mimpinya, dan lain-lain sampai kepada masalah yang kecil yang semuanya diterangkannya sebagaimana adanya. Ketika anak muda (Muhammad) itu pamit kepada pendeta Bahira untuk kembali ke dalam kemahnya, maka bagian atas leher bajunya terbuka. Mungkin dibukanya sendiri karena kepanasan atau mungkin juga tersingkap oleh angin, dengan izin Illahi. Tiba-tiba pendeta Bahira melihat dekat kuduk anak muda itu satu tanda, persis seperti tanda dan di tempat yang disebutkan dalam Kitab Suci yang dibacanya. Tanda itu adalah tanda ke Nabian, Khatamun Nubuwwah. Sesudah melihat tanda-tanda itu, maka seketika itu juga hilanglah keragu-raguan pendeta Bahira dan timbullah keyakinannya yang bulat, bahwa anak muda itu pastilah seorang Rasul yang telah disebut-sebut akan kedatangannya itu dalam kitab Injil dan Taurat. Beberapa saat kemudian, pendeta itu pergi menemui orang tua yang membawa anak muda itu dalam perjalanan, yaitu Abu Thalib.

“bagaimanakah hubungan kekeluargaan anda dengan anak itu?”, tanya pendeta Bahira.
“Dia adalah anak saya”, sahut Abu Thalib.
“Apakah anak kandung tuan sendiri?”
“Bukan anak kandung saya sendiri, tapi anak saudara saya”.
“Bagaimanakah keadaan saudaramu itu?”
“Dia telah meninggal dunia tatkala istrinya baru dua bulan mengandung anaknya itu”.
“Engkau telah mengatakan hal-hal yang sebenarnya. Dengarlah perkataan saya lebih lanjut. Janganlah lewatkan waktu. Kembalilah segera dengan anakmu itu ke negerimu”.
“Jagalah dia dengan baik-baik dan hati-hati. Lebih-lebih anda harus waspada terhadap orang-orang Yahudi, sebab apabila mereka mengetahui seperti apa yang telah saya ketahui, maka orang-orang Yahudi itu akan berbuat jahat kepadanya. Ketahuilah, bahwa putra saudaramu itu telah ditetapkan untuk melaksanakan satu tugas kemanusiaan yang penting di dunia ini”.

Mendengar nasehat seorang pendeta yang mendasarkan keterangannya kepada petunjuk-petunjuk dalam Kitab Suci yang masih murni, maka Abu Thalib pun dengan segera menuju kota Basrah, dengan maksud supaya secepatnya menjualkan barang-barang dagangannya itu, dan secepat itu pula akan kembali ke tanah Hidjaz. Setelah barang-barang dagangan itu habis terjual, maka Abu Thalib dan Muhammad beserta rombongan lainnya berangkatlah pulang menuju kampung halaman mereka, dan sampai di Mekkah kembali dalam keadaan selamat. Dari tahun ke tahun Muhammad pun semakin tumbuh dewasa di bawah asuhan pamannya, Abu Thalib, hingga beliau menikah dengan Khadijah binti Khuwailid.

 

Sumber :

-          Ihsan AM. Hs

-          Tafsir Ibnu Katsir





Related Article