ALHIRATECHNOLOGIES.COM : Toko Online Elektronik, Pen Muslim, Audio Digital, Jam Muslim dan CD/DVD Islami


Customer Service

SMS / Hotline
Telp : 0225233134
Whatsapp : 082121445511
Whatsapp : 081333488881
Whatsapp : 081333499991
Line Id : alhiratechnologies
Keranjang Belanja
Keranjang belanja Anda masih kosong. Selamat berbelanja.

Rekening Pembayaran
Testimonial

rhalumunium.com
Jam Meja Digital Azan Sholat 06 & Mesin Pintu Muslim. Telah diterima dengan baik, senin sore transfer rabu pagi sudah sampai, good job. Terima kasih



By Alhira Technologies  Article Published 11 April 2016
 
Soal:

Kita harus mengetahui secara mendasar bahwa tidak boleh mengkonfrontasikan antara iman kita terhadap takdir Allah dengan iman kita bahwa Allah telah memberikan kita keinginan dan kehendak yang dengan kehendak tersebut kita mampu melakukan banyak hal. Keinginan dan kehendak kita itu adalah penentu adanya kehendak seorang hamba. Allah berfirman:

لِمَنْ شَآءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيْمَ

“(yaitu) bagi siapa diantara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus…” (QS. At-Takwir: 28)

 

Jawab:

Keinginan dan kehendak itu, termasuk dalam kandungan kehendak Allah:

وَ مَا تَشَآءُوْنَ إِلآَّ أَنْ يَشَآءَ اللهُ رَبُّ العَالَمِيْنَ

Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam.” (QS. At-Takwir: 29)

Dengan dasar itu, tidaklah bisa mengkonfrontasikan antara takdir Allah dengan kehendak hamba, karena Allah mengesahkan keduanya. Allah mengesahkan adanya kehendak dan ikhtiar hamba, dan Allah pun menetapkan adanya kehendak-Nya yang meliputi segala sesuatu.

Kalau hal ini kita terapkan pada yang tersirat dalam pertanyaan di atas, maka katakan bahwa seorang hamba itu memiliki kehendak yang dengan kehendak itu ia dapat memilih orang yang disukainya untuk menikah dengannya. Segala yang terjadi berdasarkan pilihan seorang hamba, itu sudah tertulis di sisi Allah. Keinginan, kehendak, ikhtiar hamba tadi menjadi sarana terjadinya tujuan dan cita-citanya.

Dengan segala yang dimilikinya itu, seorang hamba bisa mencapai apa yang dia inginkan. Namun terkadang ada berbagai halangan yang menghalangi seorang hamba untuk mencapai keinginan dan tujuannya. Dengan itu si hamba menyadari bahwa Allah memang belum menakdirkan baginya untuk apa yang dia inginkan karena ada satu hikmah yang diketahui oleh Allah. Segala perbuatan Allah itu baik adanya. Sementara seorang hamba itu tidak mengetahui perihal ghaib, juga tidak tahu dari segala urusan. Terkadang seorang hamba menyesali hilangnya sesuatu, padahal sesuatu itu memang lebih baik hilang. Terkadang seseorang merasa tidak senang sesuatu itu terjadi, padahal lebih baik sesuatu itu terjadi, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:

وَعَسَى أنْ تَكْرَهُوْا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوْا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ

…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui..” (QS. Al-Baqarah: 216)

Semoga shalawat dan salam terlimpahkan atas Nabi Muhammad Ṣallāllāhu‘alaihi wa sallam.

(Soal-jawab Keislaman) (www.islamqa.com)

 

***

Diketik ulang dari buku “Fatwa-fatwa Kontemporer” yang disusun oleh Syaikh Shalih Al-Munajjid,hal 79-80.

 

Sumber Artikel Muslimah.Or.Id



Related Article